Kisah Imam Busyiri: Pengarang Qasidah Burdah
Pengarang Qasidah Burdah

By Hayatunnufus 07 Okt 2022, 20:59:06 WIB Tokoh
Kisah Imam Busyiri: Pengarang Qasidah Burdah

Keterangan Gambar : Makam Imam Busyri, di Alexandria Mesir


Jakarta - Imam Busyiri dilahirkan pada hari Selasa 1 Syawal 608 H di Dallaz, salah satu desa di dataran tinggi Mesir yang ditempati keluarga Bani Suwaif. 

Julukan “Bushiri" dinisbatkan kepada salah satu orang tuanya yang berasal dari daerah Bushir Mesir. Sedangkan kata “Shonhaji” ialah nama kabilah suku barbar yang bertempat tinggal di gurun pasir sebelah barat Maghrib Aqha (sekarang Maroko).

Imam Bushiri berpindah dari desa kelahirannya bersama keluarga menuju Kairo guna melazimi halaqoh-halaqoh keilmuan para ulama termashyur. Beliau sangat tekun dalam belajar hingga dapat menguasai berbagai macam ilmu dalam waktu yang sangat singkat. Ilmu yang menjadi kegemarannya adalah sastra Arab. Selain itu, beliau juga mampu menghafal seluruh isi Al-Quran serta memahami isi kandungannya.

Baca Lainnya :

Setelah menjadi ulama ternama, beliau mencetak banyak ulama tersohor. Di antara muridnya yang menjadi unggulan adalah Abu Hayyan Asiruddin Muhammad bin Yusuf Al-Gharnathi Al-Andalusi, Fathuddin Abu al-Fath Muhammad bin Muhammad al-Amri al-Andalusi al-Isybili al-Mishri yang kerap dikenal dengan gelar "Ibnu Sayyid an-Nas" (Putra dari Penghulu manusia). Masih banyak lagi ulama yang terlahir dari didikan beliau.

Semasa muda, Imam Bushiri sering kali mengarang nadhom dan syair-syair berbahasa Arab. Hal itu dilandasi atas rasa cintanya pada Bahasa Arab yang tinggi, hingga akhirnya beliau tuangkan bukti kecintaannya dalam sebuah karya tulis.

Ciri khas syair yang terlahir dari pena beliau dan menjadi pembeda syair selainnya, ialah kandungan makna di dalamnya. Terdapat pesan dan hikmah yang begitu mendalam hingga mampu membuat si pembaca seolah-olah tenggelam dalam samudera kearifan.

Sayyidi Syekh Dr. Muhammad bin Ali Baatiyah pernah menuturkan kisah hidup Imam Bushiri.

Alkisah, Imam Bushiri adalah penyair ulung yang dekat dengan para pengusa di zamannya. Memberikan pujian terhadap mereka adalah kepiawaiannya. Beliau mendapatkan tempat adiluhung di mata para penguasa.

Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Setelah disingkapkannya keburukan nafsu orang-orang di sekitarnya, Imam Bushiri tersadar dan mulai menjauh dari mereka. Penyesalan Imam Bushiri menjadi-jadi ketika Allah membuka hatinya. Dirinya terlalu dilenakan oleh keindahan dunia yang fana.

Semenjak itu, beliau mengubah rutinitasnya dengan mulai mendekatkan diri kepada Allah swt. melalui tulisan syair-syair yang berisikan tentang pujian kepada kekasih-Nya, Baginda Nabi Muhammad saw.

Tidak ada syair yang mampu membandingi syair yang ditulisnya. Keikhlasan serta kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. mengantarkan dirinya kepada tingkat kemuliaan dan mashyur di kalangan para Wali Allah di bumi serta Malaikat di langit.

Guru Spritual yang berperan penting bagi Imam Bushiri semasa hidupnya ialah Wali Quthub Sayyidi Syekh Abu al-Abbas al-Mursi. Sanad keilmuannya bersambung hingga Sayyidi Abu al-Hasan asy-Syadzili. Dari beliau Imam Bushiri mendapatkan ilmu dzahir dan batin.

Adikarya Warisan Imam Bushiri

Imam Bushiri mewariskan segudang karya qasidah yang tak bisa diserupai orang lain. Terutama Burdah, sebuah qasidah yang berceritakan pujian kepada Nabi Muhammad saw. Qasidah ini tersebar ke seluruh penjuru negeri. Bahkan telah dijadikan adat mingguan yang dilakukan oleh para keluarga Bani Alawi di Hadramaut.

Qasidah Burdah mashyur di kalangan umat muslim. Para ulama meyakini adanya keberkahan yang terkandung dalamnya. Hal itu disebabkan dari kisah yang dialami sendiri oleh Imam Bushiri.

Alkisah, Imam Bushiri tertimpa penyakit kronis yang melumpuhkan fungsi sebagian organ tubuhnya. Kala itu, para dokter memvonis penyakitnya tidak bisa disembuhkan. Gundah melihat kondisi yang dialaminya, beliau bertekad untuk menuliskan sebuah qasidah berisikan pujian kepada Nabi, berharap agar Allah swt menyembuhkan dirinya berkat shalawat kepada sang kekasih.

Imam Bushiri mulai menulis dan mengarang qasidah Burdah, sembari membayangkan bahwa Rasulullah saw. berada di dekatnya dan mengawasi apa yang ia tulis.

Setelah sampai pada bait terakhir, beliau tertidur. Dalam mimpinya, dia bertemu dengan Rasulullah saw.

Beliau melihat Rasulullah saw. mengusapkan tangannya yang mulia ke tubuh Imam Bushiri serta memakaikan burdah kepadanya. Tak lama kemudian, Imam Bushiri kembali tersadar dan mendapati dirinya telah sehat dan pulih kembali sedia kala.

Penamaan Burdah dinisbatkan kepada kisah seorang sahabat yang bernama Ka'ab bin Zuhair, salah seorang penyair Rasulullah saw.

Rasulullah saw. pernah memasangkan burdah (selimut berbulu hitam) mulia kepada Ka'ab. Hal itu tidak beliau lakukan melainkan sebagai tanda dan bentuk rasa cinta beliau kepadanya. Oleh karenanya, nama burdah lalu dipakai untuk para penyair Rasulullah dari generasi ke generasi.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment