Mengulas Nasihat Klasik Yahya Bin Muadz
Menjadi Mulia dan Bijaksana di Era Modern
Rabu, 2026-09-16 | 10:54:55
Di tengah sibuknya kehidupan, tekanan pekerjaan, dinamika keseharian, derasnya arus media sosial, serta dunia yang bergerak begitu cepat di era sekarang, terkadang muncul sebuah pertanyaan dalam diri kita: bagaimana agar kita tetap memiliki prinsip yang kokoh?
Sebab, tidak semua prinsip modern mampu menjadi pegangan yang kuat. Sebagian bahkan dapat berubah mengikuti situasi dan kondisi. Akibatnya, tanpa disadari, kita sering kali terombang-ambing dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan. Prinsip yang semestinya menjadi pijakan justru menjadi bias, sehingga tidak cukup kuat untuk menopang kita dalam menentukan apa yang benar dan bagaimana seharusnya kita bersikap.
Akan tetapi, jawaban yang selama ini kita cari mungkin bukan berada pada tren baru yang silih berganti muncul di FYP, atau kiat-kiat kehidupan di media sosial yang tidak jelas asal-usul dan pijakannya. Barangkali, jawabannya justru telah hadir berabad-abad lalu, tersimpan dalam sebuah teks klasik yang masih relevan hingga hari ini.
Mari kita berhenti sejenak dan menelaah kembali nasihat Yahya bin Mu‘adz ar-Razi berikut ini:
عَنْ يَحْيَى بْنِ مُعَاذٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: مَا عَصَى اللهَ كَرِيمٌ، أَيْ حَمِيدُ الْفِعَالِ، وَهُوَ مَنْ يُكْرِمُ نَفْسَهُ بِالتَّقْوَى وَبِالِاحْتِرَاسِ عَنِ الْمَعَاصِي، وَلَا أَثَرَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ حَكِيمٌ، أَيْ لَا يُقَدِّمُهَا وَلَا يُفَضِّلُهَا عَلَى الْآخِرَةِ حَكِيمٌ، أَيْ مُصِيبٌ فِي أَفْعَالِهِ، وَهُوَ مَنْ يَمْنَعُ نَفْسَهُ مِنْ مُخَالَفَةِ عَقْلِهِ السَّلِيمِ.
“Tidak mungkin seseorang yang benar-benar mulia menjadikan kemaksiatan sebagai jalan hidupnya. Kemuliaan itu tampak dari caranya menjaga diri dengan takwa dan menahan diri dari perbuatan dosa. Dan tidaklah orang yang benar-benar bijaksana mendahulukan dunia di atas akhirat; sebab kebijaksanaan adalah kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ia mampu menahan dirinya agar tidak mengikuti keinginan yang bertentangan dengan akal sehatnya.”
Yahya bin Mu‘adz mengajarkan dua ukuran sederhana tentang kualitas diri: orang yang mulia tidak akan bermaksiat kepada Allah, dan orang yang bijaksana tidak akan menukar akhirat dengan dunia.
Satu nasihat sederhana ini merangkum dua karakter dan prinsip yang kokoh, bahkan sudah semestinya dimiliki oleh setiap Muslim sejati, yaitu karakter Karīm (mulia) dan pola pikir Ḥakīm (bijaksana).
Seorang Muslim idealnya memiliki karakter Karīm, yang tercermin dalam tindakan, akhlak, dan ketakwaan. Pada saat yang sama, ia juga perlu memiliki pola pikir Ḥakīm, yang tercermin dalam keluasan visi, kejernihan berpikir, serta kemampuan menggunakan akal sehat dalam menentukan sikap.
Keduanya merupakan dua unsur yang saling melengkapi: kemuliaan dalam karakter dan kebijaksanaan dalam cara berpikir.
Karīm (Mulia); Sang Penjaga Kehormatan
Karakter Karīm (Mulia) ini digambarkan oleh Imam Nawawi Al-Bantani sebagai :
حَمِيْدُ الْفِعَالِ، وَهُوَ مَنْ يُكْرِمُ نَفْسَهُ بِالتَّقْوَى وَبِالْاحْتِرَاسِ عَنِ الْمَعَاصِي
Inti dari karakter mulia bukanlah nasab keluarga, jabatan dan kekuasaan, popularitas, ataupun kekayaan. Kemuliaan tidak ditentukan oleh apa yang dimiliki seseorang, melainkan oleh bagaimana ia menjaga dirinya. Selain tercermin dalam perbuatan yang terpuji, orang yang mulia adalah mereka yang memuliakan dirinya dengan takwa dan menjaga diri dari maksiat.
Sebab, dosa dan maksiat merendahkan martabat, sedangkan kemuliaan sejati merupakan harga diri. Orang yang benar-benar mulia tidak akan merendahkan dirinya dengan melanggar aturan Penciptanya. Penolakannya terhadap perbuatan rendah bukan semata-mata karena takut kepada manusia, tetapi karena ia menghargai dirinya sendiri di hadapan Allah SWT.
Imam Al-Ghazali mengibaratkan hati manusia seperti cermin yang bersih. Setiap kali seseorang melakukan maksiat, satu noda hitam melekat pada cermin tersebut. Jika dibiarkan, noda itu akan semakin menutup hati hingga ia kehilangan kejernihannya dan tidak lagi mampu memantulkan cahaya kebenaran dan ilmu.
Inilah salah satu alasan mengapa maksiat dapat membuat seseorang merasa ‘insecure’, kehilangan fokus, dan malas. Maksiat bukan hanya pelanggaran terhadap aturan Allah, tetapi juga dapat merampas kemuliaan dan ketenangan hati.
Sementara itu, takwa membutuhkan konsistensi dan kejujuran, sebagaimana sabda Nabi SAW:
اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ
(HR. Tirmidzi)
Pesan hadis ini menegaskan bahwa takwa tidak mengenal batas ruang dan waktu. Ujian takwa yang sesungguhnya justru ketika seseorang berada dalam kesendirian, saat tidak ada manusia yang melihat dan tidak ada yang perlu dibuat terkesan.
Menjadi Karīm (mulia) berarti menjaga karakter tetap sama, baik ketika berada di tengah keramaian maupun ketika sedang sendirian. Sebab, kemuliaan sejati bukanlah topeng sosial yang dikenakan di hadapan manusia, melainkan kehormatan yang tetap melekat ketika hanya Allah yang menyaksikan.
Ḥakīm (Bijak); Sang Pemilik Visi.
Karakter Ḥakīm (bijak) dijelaskan oleh Imam Nawawi Al-Bantani sebagai berikut:
مُصِيْبٌ فِي أَفْعَالِهِ، وَهُوَ مَنْ يَمْنَعُ نَفْسَهُ مِنْ مُخَالَفَةِ عَقْلِهِ السَّلِيمِ.
Ḥakīm adalah orang yang tindakannya tepat sasaran, karena ia mampu mengendalikan dirinya agar tidak bertentangan dengan akal sehat (‘aql salīm).
Akal yang sehat akan mampu melihat apa yang sering luput dari pandangan sesaat: bahwa akhirat lebih baik dan lebih kekal daripada dunia yang fana. Karena itu, bijak bukan berarti mengetahui segala sesuatu. Salah satu tanda kebijaksanaan justru terletak pada kemampuan menentukan prioritas.
Dunia itu sementara (short term), sedangkan akhirat adalah kehidupan yang kekal (long term). Maka, mengorbankan sesuatu yang kekal demi kesenangan yang sementara bukanlah tindakan orang yang bijak.
Sederhananya, hanya orang bodoh yang akan menukar berlian dengan batu biasa. Sebaliknya, orang yang bijak rela menahan sedikit lelah di dunia sebagai ‘investasi’ demi masa depan yang abadi di akhirat.
Pada akhirnya, jangan biarkan dunia merendahkan diri kita. Jadikan takwa sebagai perisai dan akhirat sebagai kompas dalam setiap langkah. Sebab, ketika takwa menjaga kemuliaan diri dan akhirat menjadi arah tujuan, tidak ada godaan dunia modern yang mampu membuat kita rela menukar kehormatan dengan kesenangan yang sementara.
KATEGORI YANG SAMA
Tata Cara Mandi Junub Menurut Kitab Kuning dan Manfaatnya Menurut Ilmu...
Mengenal Mandi Junub menurut perspektif Fiqih dan dunia Kesehatan