Teras Santri ( DR News )


Tokoh

Pesan Moral Sambutan Kyai Husnan di Harlah 50 Tahun Daarul Rahman

Kyai Husnan Sebut Indonesia Sebagai Benteng Pertahanan Terakhir Umat Islam

Jumat, 2025-10-31 | 17:02:08


KH. Husnan Bei Fananie memberikan sambutan pada acara Harlah 50 Tahun Daarul Rahman * KH. Husnan Bei Fananie memberikan sambutan pada acara Harlah 50 Tahun Daarul Rahman

      Jakarta – Perayaan harlah 50 Tahun Daarul Rahman sukses digelar pada Sabtu, 25 Oktober 2025 silam, di SICC (Sentul International Convention Center) Bogor. Perayaan ini merupakan acara yang dicetuskan oleh para alumni yang merasa rindu pada kyai dan pondok.


      Acara ini disambut antusias oleh para alumni dan wali santri. Sehingga, acara ini dihadiri oleh ± 20.000 orang, termasuk para santri, alumni, para guru, juga habaib. Acara ini dihadiri oleh sejumlah orang-orang penting seperti Ketua MPR-RI Bapak Ahmad Muzani, S.Sos, Wakil Mentri Agama Dr. Romo H. R. Muhammad Syafii, SH., M.Hum., Perwakilan Ulama Luar Negeri Habib Ali bin Habib Abdurrahman Al Habsyi dari Malaysia, serta lainnya.


       Dan salah satu yang berkesempatan untuk menyampaikan sambutan Adalah Prof. Dr. KH. Husnan Bei Fananie selaku alumni sekaligus keluarga dari Pondok Pesantren Gontor Ponorogo.
Dalam sambutannya yang penuh semangat, beliau mengingatkan bahwasanya Indonesia merupakan negeri yang memiliki mayoritas penduduk islam. Sehingga Indonesia pun disebut sebagai benteng  terakhir umat islam yang ada dalam garis khatuslistiwa bumi, yaitu di bagian selatan bumi.


      “Negeri yang diketahui oleh orang sedunia bahwa kita adalah muslim, dan kita adalah benteng pertahanan umat islam dan peradaban islam terakhir dunia.” ujarnya.


      Beliau pun mengingatkan bahwa Indonesia tak akan bisa menjadi baldatun thoyyibatun, ataupun gemah ripah loh jinawi jika meninggalkan sokok-sokok guru benteng pertahanan umat islam, seperti perguruan-perguruan islam, pondok pesantren, juga majelis-majelis ilmu. Benteng pertahanan umat ini disebut sebagai “The Green Belt of South East Asia” atau Sabuk Hijau Asia Tenggara yang mana tiap benteng itu punya tiang-tiangnya sendiri, salah satunya adalah Daarul Rahman.


      Beliau pun berslogan di akhir pidatonya

“Berani hidup tak takut mati. Takut mati jangan hidup. Takut hidup, mati saja. Sekali hidup, hiduplah yang berarti”

untuk mengobarkan semangat para santri untuk terus melakukan kebaikan dan ikut berkontribusi dalam mempertahankan benteng umat islam.