Teras Santri ( DR News )


Tokoh

melepas kepergian KH.Syukron Ma'mun

MENGIRINGI KEPERGIAN SANG KYAI

Sabtu, 2026-10-24 | 13:25:30




MENGIRINGI KEPERGIAN SANG KYAI

 

Melepas kepergian KH. Syukron Ma’mun

 

Jakarta, 18 Oktober 2026, merupakan hari ketika para santri Ponpes Daarul Rahman dilanda kesedihan yang mendalam setelah melepas kepergian sang kyai yang telah menemani perjalanan hidup para santri, bahkan para alumni yang telah terjun langsung ke masyarakat.

 

Kematian adalah ketetapan bagi segala makhluk. Setiap makhluk pasti akan merasakan kematian, seperti yang terdapat dalam kalam Ilahi, Surah Al-Anbiya ayat 35, yang berbunyi:

 

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةًۗ وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

 

Artinya:

 

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan."

 

Ketika seorang hamba telah menjalankan tugasnya di dunia dengan ikhlas dan berhasil melewati lika-liku kehidupan, maka hamba itu akan kembali ke tempat yang seharusnya, yaitu di sisi-Nya.

 

Selayaknya seorang murid yang diberi tugas oleh gurunya, setelah menyelesaikan tugasnya, ia akan menghadap kepada sang guru untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dikerjakannya. Begitu pula manusia. Ketika seorang hamba telah menjalankan tugasnya di dunia, pada akhirnya ia akan menghadap Rabb-nya untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Sebelum itu, ia akan melewati satu proses, yaitu kematian.

 

Sebelum jasad KH. Syukron Ma’mun dikebumikan, ada beberapa cerita yang disampaikan oleh KH. Muhammad Faiz SM selaku putra dari KH. Syukron Ma’mun. Beliau menyampaikan:

 

“Tadi subuh, sepanjang hidupnya itu ayah saya jamaah sama ibu. Dari setengah tiga malam biasanya bangun sama ibu, tapi tadi bilangnya agak lemas. Saya bilang, ‘Sakit, Bi?’ ‘Nggak, tidur aja lah nanti sarapan.’ Terus salat Subuh. Habis salat Subuh itu ngobrol biasa dengan saya. Kemudian beliau ke ruang makan, saya yang tertidur. Tiba-tiba ibu teriak,” jelas beliau.

 

“Sebelumnya ayah saya bilang, ‘Nanti malam nggak usah ngaji. Saya punya nazar ke Luar Batang kalau saya sehat. Pokoknya nanti malam kamu sama saya ke sana.’ Setelah itu saya ngomong, ‘Iya, gampang. Ke Luar Batang dekat.’ Terus saya tidur, karena memang saya belum tidur malam tadi. Terus tiba-tiba ibu teriak karena merasa sesak. Perasaan saya memang ayah saya itu sudah nggak ada di rumah. Tapi tatapan mata terakhir itu bilang, ‘Is, bawa saya dulu ke rumah sakit. Bawa. Itu bagian dari ikhtiar. Takdir itu nggak ada yang tahu.’”

 

“Makam itu sudah diwasiatkan letaknya di mana, ada di bagian mana dari pesantren ini. Ayah saya itu sudah ngomong mungkin sudah lebih dari lima tahun yang lalu. Empat puluh satu tahun di Daarul Rahman Senopati dan sepuluh tahun di Jagakarsa, beliau memilih makamnya di belakang (di Daarul Rahman Jagakarsa). Ada pohon kelapanya, beliau yang menanam. Beliau bilang, ‘Nanti kepala saya di sini.’ Dan itu saya wujudkan bersama.”

 

“Karena ayah saya punya nazar, nanti malam ke Luar Batang, saya harus membaca apa yang biasa beliau baca sebagai bakti saya.”

 

“Ayah saya itu sudah pesan supaya santri-santrinya nanti kalau saya mati, biar santri-santri saya yang baca Qur’an, agar menjadi saksi di hadapan Allah bahwa saya itu tidak pernah berpikir apa pun, kecuali dakwah dan pesantren.”

 

Di tengah teriknya matahari siang, niat dan keikhlasan para santri, alumni, serta para hadirin untuk mengantarkan Syaikhona Kiai Haji Syukron Ma’mun ke tempat peristirahatan terakhir tidak surut. Prosesi pemakaman terasa begitu sesak karena ramainya para alumni, ulama, bahkan habaib yang ikut serta dalam prosesi tersebut.

 

Pemakaman dilaksanakan pada pukul 13.30 di tempat yang telah diwasiatkan oleh almarhum KH. Syukron Ma’mun, yaitu di samping pohon kelapa yang ditanam sendiri oleh beliau.

 

Selain dihadiri oleh keluarga besar KH. Syukron Ma’mun, prosesi pemakaman ini juga dihadiri oleh beberapa tokoh penting, mulai dari para pejabat, habaib, hingga ulama yang sebagian merupakan alumni Ponpes Daarul Rahman. Mereka antara lain Supian Suri, Wali Kota Depok; Habib Muhammad Hanif bin Abdurrahman Alatas; Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi; KH. Munawwir Aseli, pimpinan Majelis Ta’lim Al-Munawwir Jakarta; KH. Mahfudz Asirun, Rais Syuriah PBNU yang mengimami salat jenazah; KH. M. Cholil Nafis, Wakil Ketua Umum MUI; dan masih banyak lagi.

 

Pada saat prosesi pemakaman, KH. Muhammad Faiz SM turun langsung ke liang lahat untuk meletakkan jasad ayah beliau. Ia dibantu oleh asistennya, yaitu Ustaz Malik Abdul Aziz, bersama seorang lainnya. Setelah jasad berada di liang lahat, azan dikumandangkan oleh Ustaz Malik Abdul Aziz, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh KH. Muhammad Faiz SM.

 

Tak terasa, prosesi pemakaman pada siang itu berlangsung begitu singkat. Setelah ambulans yang membawa jenazah tiba dari Rumah Sakit Pondok Indah, jenazah langsung disalatkan dan dikebumikan pada siang itu juga. Hal tersebut merupakan permintaan almarhum agar segera dimakamkan setelah selesai disalatkan.

 

Selama tujuh hari ke depan, terhitung sejak malam pertama beliau dimakamkan, para alumni atau peziarah yang ingin berziarah, membaca tahlil, dan mengaji di makam beliau dipersilakan untuk hadir. Kegiatan pengajian dan tahlil untuk beliau juga disiarkan secara langsung melalui media Daarul Rahman bagi mereka yang berhalangan hadir, tetapi tetap ingin mengikuti khataman Al-Qur’an untuk beliau.

 

Selama tujuh hari tersebut, para santri Ponpes Daarul Rahman Jakarta, Bogor (Leuwiliang), dan Depok berkumpul di area makam beliau untuk mengadakan khataman Al-Qur’an tanpa henti.

 

Khataman dilakukan sejak pagi hingga Magrib oleh santri putri, sedangkan santri putra melaksanakannya selepas Isya hingga Subuh. Sebelum santri putra memulai khataman, diadakan tahlil akbar yang dihadiri oleh para alumni dan beberapa tokoh penting yang berkesempatan hadir. Kegiatan tersebut terus dilakukan selama tujuh hari.

 

Selama khataman berlangsung, segala jenis aktivitas dan agenda pondok ditiadakan sementara untuk melaksanakan permintaan terakhir almarhum KH. Syukron Ma’mun, yaitu khataman Al-Qur’an di sekitar makam beliau, sebagaimana yang disampaikan oleh KH. Muhammad Faiz SM sebelumnya. Hal tersebut berlaku untuk tiga pesantren, yaitu Ponpes Daarul Rahman 1 Jakarta, Daarul Rahman 2 Bogor, dan Daarul Rahman 3 Depok, sesuai dengan kesepakatan KH. Umar Faruq selaku Kepala Pengasuh PP Daarul Rahman.

 

Untuk bisa lebih dekat dengan beliau, terdapat salah satu video di akun resmi Daarul Rahman yang mengenang sosok almarhum KH. Syukron Ma’mun. Video tersebut mendokumentasikan keseharian beliau saat berkeliling pondok pesantren. Video dapat disaksikan melalui tautan berikut:

 

https://youtu.be/DV7eKkdCLuM?si=e0LZUkcSITFTuok5

 

KH. Syukron Ma’mun adalah ulama karismatik yang sangat dikenal, bukan hanya karena keilmuannya ataupun julukannya. Beliau juga dikenal sebagai sosok yang tidak takut kepada pemerintah yang zalim dan memiliki ketegasan serta kemampuan retorika yang luar biasa. Beliau juga membela amaliah Ahlussunnah wal Jama’ah yang kerap menjadi bahan perdebatan. Bahkan, beliau menuliskan sebuah karya dalam bentuk buku yang berkaitan dengan hal ini, yaitu "Apakah Bid’ah Itu?" (2007), untuk menjawab berbagai tuduhan dan menjadi rujukan agar para santri tidak goyah ketika amaliah mereka dituduh sesat.

 

Tak heran, ketika berita wafatnya beliau tersebar luas, bukan hanya alumni dan para santri yang berbondong-bondong datang untuk mendoakan, membacakan tahlil, atau sekadar berziarah ke makam beliau, tetapi banyak pula tokoh penting yang hadir, mulai dari para ulama, habaib, hingga pejabat.