Teras Santri ( DR News )


Acara Pondok

Membaca Keteladanan Nabi di Tengah Krisis Lingkungan

Dari Maulid Menuju Kesadaran Ekologis: Meneladani Nabi ﷺ dalam Merawat Bumi

Selasa, 2026-09-01 | 11:17:52




 

Jakarta (25/8) — Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ di Pondok Pesantren Daarul Rahman tidak  berhenti pada momentum mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ atau melantunkan rawi dan shalawat. Lebih dari itu, di Daarul Rahman maulid menjadi ruang untuk menyerap keteladanan Nabi ﷺ dan menghadirkan nilai-nilai kenabian dalam seluruh aspek kehidupan. Salah satunya adalah bagaimana manusia membangun hubungan yang bertanggung jawab dengan alam dan lingkungan sebagai bagian dari amanah kekhalifahan di bumi.

Melalui sesi talkshow bertema “Dari Maulid Nabi Menuju Kesadaran Ekologis”, para santri diajak memahami bahwa kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak cukup hanya diungkapkan melalui lisan, tetapi harus diterjemahkan ke dalam perilaku yang mencerminkan akhlak beliau: rahmah, amanah, tidak berlebihan, serta kepedulian terhadap seluruh makhluk.

Talkshow tersebut menghadirkan dua perspektif yang saling melengkapi. Dari perspektif lingkungan hadir Suparno Jumar, yang akrab disapa Pakde, seorang aktivis lingkungan dan River Defender yang selama ini aktif menyuarakan kepedulian terhadap kelestarian sungai dan lingkungan. Sementara dari perspektif keagamaan hadir Gus Muhammad Faiz Syukron Makmun, yang menguraikan dimensi keagamaan dan keteladanan Rasulullah ﷺ dalam membangun kesadaran ekologis.

Dalam pemaparannya, Pakde menekankan bahwa krisis ekologis tidak cukup dihadapi hanya dengan kesadaran, tetapi membutuhkan perubahan sikap dan kebiasaan manusia. Karena itu, manusia perlu melakukan “taubat ekologis”—sebuah kesadaran untuk mengakui kesalahan dalam memperlakukan alam, meninggalkan perilaku yang merusak, dan mulai membangun pola hidup yang lebih bertanggung jawab.

Menurut Pakde, taubat ekologis tidak boleh berhenti sebagai penyesalan pribadi. Ia harus bergerak menjadi “jihad ekologis”, yakni ikhtiar bersama untuk menjaga, memulihkan, dan merawat lingkungan. Jihad ekologis bukan semata-mata aksi besar, tetapi dimulai dari keberanian mengubah kebiasaan sehari-hari: mengurangi sampah, tidak berlebihan menggunakan air, menjaga kebersihan, mengurangi pemborosan makanan, merawat tumbuhan, serta membangun kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Dari taubat ekologis menuju jihad ekologis, para santri diajak menyadari bahwa menjaga alam merupakan bagian dari upaya meneladani Rasulullah ﷺ. Alam bukan sekadar objek yang boleh dieksploitasi, melainkan amanah yang harus diperlakukan dengan penuh tanggung jawab agar tetap menjadi ruang kehidupan yang sehat, bersih, dan lestari bagi generasi mendatang.

Dalam pemaparannya, Gus Faiz mengajak para santri untuk melihat kembali sabda Rasulullah ﷺ bahwa seluruh bumi dijadikan sebagai tempat sujud kecuali beberapa tempat yang sudah disebutkan oleh Nabi. Menurutnya, hadis tersebut tidak hanya berbicara mengenai kemudahan umat Islam dalam melaksanakan ibadah, tetapi juga dapat dibaca sebagai pesan tersirat agar manusia mampu menjaga kebersihan, kesucian, dan keindahan setiap ruang kehidupan.

“Ketika Nabi ﷺ menyampaikan bahwa bumi dijadikan sebagai tempat sujud, ada pesan penting bahwa tempat di mana kita berpijak harus kita hormati. Sebagaimana kita memperlakukan masjid dengan menjaga kebersihan dan keindahannya, demikian pula semestinya kita memperlakukan lingkungan di sekitar kita.”

Pandangan tersebut membawa diskusi pada satu kesadaran penting: kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya persoalan estetika, tetapi juga bagian dari adab seorang Muslim. Jika masjid dijaga karena ia menjadi tempat menghadap Allah, maka bumi pun semestinya dijaga karena ia merupakan ruang kehidupan sekaligus amanah yang dititipkan Allah kepada manusia.

Diskusi berlangsung interaktif. Para santri tidak hanya menjadi pendengar, tetapi turut diajak menyampaikan pandangan dan mengkritisi kebiasaan sehari-hari yang berkaitan dengan lingkungan, seperti pemborosan air, penggunaan plastik, menyisakan makanan, hingga menjaga kebersihan lingkungan pesantren.

Pembahasan juga mengangkat berbagai keteladanan Rasulullah ﷺ dalam memperlakukan alam. Nabi ﷺ mengajarkan sikap tidak berlebihan dalam menggunakan air, mendorong umatnya untuk menanam dan menjaga tumbuhan, serta menunjukkan kasih sayang kepada hewan dan seluruh makhluk.

Dari berbagai perspektif tersebut, para santri diajak memahami bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan kebersihan, melainkan bagian dari akhlak dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.

Sebab, persoalan lingkungan yang besar sering kali berawal dari kebiasaan kecil yang dianggap sepele: membiarkan air mengalir, membuang sampah sembarangan, menyisakan makanan, atau tidak peduli terhadap kebersihan ruang yang digunakan bersama.

Melalui kegiatan ini, para santri diharapkan mampu membawa semangat Maulid ke dalam tindakan nyata. Cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak hanya diucapkan melalui shalawat dan pujian, tetapi dihadirkan melalui akhlak dan keteladanan—termasuk dalam cara kita memperlakukan bumi dan seluruh makhluk di dalamnya.

Pada akhirnya, Maulid bukan sekadar perayaan tentang kelahiran Nabi ﷺ, tetapi momentum untuk menghadirkan kembali nilai-nilai kenabian dalam kehidupan: dari mengenang menuju meneladani, dari kesadaran menuju tindakan, dan dari taubat ekologis menuju jihad ekologis, agar bumi tetap menjadi tempat kehidupan yang bersih, indah, lestari, dan penuh rahmah.